Derek 24 JAM
021 - 70 600 234 / 0856 8688 911
Language:
Search
Artikel Interaktif

On-Line
Customer Service

cs1_panfic cs1_panfic
cs2_panfic cs2_panfic
cs3_panfic cs3_panfic
cs4_panfic cs4_panfic
cs5_panfic cs5_panfic

Total Page View

Today 24
Yesterday 346
Week 1407
Month 7955
Visitors 33896

Recent News

2011, Asuransi kerugian Indonesia bayar klaim Rp11 triliun
Posted Date : 2012-01-20

JAKARTA: Klaim bruto yang dibayarkan oleh industri asuransi kerugian (asuransi umum) diproyeksikan mencapai sekitar Rp11 triliun sepanjang 2011 atau turun dibandingkan total klaim bruto sepanjang 2010 yang mencapai Rp12,1 triliun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor mengatakan sepanjang tahun ini tidak terjadi peristiwa katastropik sehingga klaim yang masuk ke perusahaan asuransi turun dibandingkan tahun lalu.

"Sampai sekarang kami masih mendata kinerja perolehan premi dan pembayaran klaim perusahaan asuransi kerugian. Tapi karena tidak ada peristiwa katastropik berarti yang dapat menekan klaim seperti gempa bumi atau kebakaran instalasi besar, proyeksi akhir tahun diperkirakan turun. Berbeda dengan tahun sebelumnya ketika terjadi kenaikan klaim," ujarnya kepada Bisnis, hari ini, 3 Januari 2012.

Penurunan klaim tersebut, lanjut Julian, berdampak pada penurunan rasio klaim keseluruhan industri asuransi umum yang diperkirakan ada di kisaran 37% pada akhir 2011, turun dibandingkan 42,2% per akhir 2010.

Sampai dengan akhir triwulan III/2011, industri mencatatkan rasio klaim sebesar 37,6% yang merupakan hasil dari persentase klaim dibagi premi. Pada periode tersebut klaim bruto industri asuransi kerugian turun -13% dari Rp10,09 triliun per triwulan III/2010 menjadi Rp8,75 triliun.

Persentase penurunan klaim tertinggi dialami oleh lini usaha kredit dan penjaminan yang turun -77% dari Rp1,5 triliun per triwulan III/2010 menjadi Rp339 miliar per triwulan III/2011.

Adapun klaim asuransi properti turun -19% dari Rp2,98 trilun menjadi Rp2,4 triliun dan kendaraan bermotor tumbuh 11% dari Rp2,88 triliun menjadi Rp3,20 triliun. Kedua lini usaha tersebut yang memberikan kontribusi tertinggi terhadap keseluruhan klaim juga keseluruhan premi.

"Angka sampai triwulan III bisa mewakili triwulan IV karena tidak ada gejolak yang berarti bagi industri asuransi umum hingga penutup tahun lalu. Jika kondisi tetap bagus, dalam arti tidak terjadi peristiwa besar, kami membidik angka klaim rasio 2012 tidak berubah dibandingkan tahun lalu," ujarnya.

Bahkan Julian menyatakan ada potensi perbaikan loss ratio bagi industri asuransi kerugian di tahun ini karena ada peluang dari lini usaha asuransi properti dan asuransi kendaraan bermotor.

Dia menjelaskan kedua lini usaha utama industri asuransi kerugian tersebut memiliki peluang untuk menunjukkan perbaikan kinerja perolehan premi dan klaim pada tahun ini sehingga berdampak pada penurunan loss ratio.

Dia menuturkan kapasitas reasuransi, khususnya lokal, untuk lini usaha asuransi properti pada tahun ini lebih terbatas sebagai dampak dari penurunan kapasitas reasuransi luar negeri.

Akibatnya, ujarnya, perusahaan asuransi tidak dapat sembarangan menawarkan asuransi properti.

"Dengan demikian, seharusnya harga asuransi properti menjadi lebih sehat," katanya.

Adapun lini usaha kendaraan bermotor, tambahnya, berpeluang menjaga rasio klaim seiring upaya Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mendorong perusahaan untuk memperbaiki data base asuransi kendaraan bermotor.

"Ada sinyal dari regulator , agar perusahaan mempertanggungjawabkan statistik lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Tujuannya agar rate terjaga, tidak diobral," katanya.

Marten P Lalamentik, Direktur PT Asuransi Sinar Mas, mengatakan lini bisnis asuransi kendaraan bermotor lebih menjanjikan pada tahun ini. Melalui lini bisnis tersebut, perusahaan akan menggenjot perolehan premi secara keseluruhan.

"Sebagai contoh, perusahaan bisa memperoleh premi sebesar Rp40 juta dari proteksi sebuah objek mobil yang bernilai Rp1 miliar," ujarnya.

Namun begitu, dia menilai sangat perlu mengelola risiko lini usaha tersebut untuk menghindari klaim berlebihan.

http://www.bisnis.com/articles/2011-asuransi-kerugian-indonesia-bayar-klaim-rp11-triliun

Sumber : BISNIS.COM